Hakekat Amal Dalam Kitab Al Hikam

SeputarNU.com – Imam Ibnu Athaillah menulis di bab awal Kitab Al Hikam tentang hakikat amal. Orang yang melakukan amal pasti mempunyai pengharapan kepada Allah. Namun jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh. Hal itu mengakibatkan sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Allah. Apabila berkurang pengharapan kepada rahmat Allah, maka amalnya pun akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.

“Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa”

Pada hakekatnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Allah. Sedangkan diri kita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Allah.

Kalimat: Laa ilaha illalloh, Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia. Maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.

Related Articles