Birrul Walidain Seorang Pemuda, Uwais bin Amir Al Qarni

JAKARTA- Sebuah kisah penggugah jiwa di hari ibu 22 Desember 2016. Seorang pemuda yang tidak tenar di bumi namun disegani penduduk langit. Seorang pemuda yang menurut sebagian ulama merupakan generasi tabi’in terbaik yaitu Uwais bin Amir Al Qarni.

Uwais sangat berbakti kepada ibunya. Hal inilah yang harus diteladani oleh pemuda-pemuda masa kini. Pada era tabi’in di Yaman hidup seorang pemuda bernama Uwais bin Amir Al Qarni dengan ibunya. Uwais pemuda dengan penyakit belang-belang atau sopak disekujur tubuhnya. Meskipun demikian Uwais pemuda yang soleh dan berbakti kepada Ibunya, ia merawat ibunya yang sudah tua dan lumpuh dan memenuhi segala kebutuhannya. Hanya satu permintaan yang membuat ia berpikir keras karena kondisi serba terbatas yaitu haji dan silaturahim ke Rasulullah.

Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Kemudian, ia menjual beberapa barang yang dimiliki untuk dibelikan seekor anak lembu. Anak lembu tersebut dibuatkan kandang di atas bukit sekitar tempat tinggalnya. Setiap pagi setelah merawat ibunya, ia mengambil anak lembu dibawa turun untuk digembalakan dan digendong kembali saat sore tiba. Masyarakat sekitar yang melihatnya mengira Uwais tidak waras memikirkan ibunya yang ingin naik haji. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim haji. Dan mengertilah orang-orang maksud Uwais membuat kandang lembu diatas bukit. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, dan ia jual untuk perbekalan menjalankan ibadah haji.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah!Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga”. Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta.

Dalam riwayat Uwais Al Qarni dan ibunya sempat datang ke Madinah silaturahim dengan Rasulullah SAW, namun tidak bertemu. Lalu Aisyah RA, memberitahu Rasulullah SAW tentang kedatangan tamu pemuda dan ibunya dari Yaman. Rasulullah SAW pun menengadahkan tangan dan mendoakan kesembuhan penyakit sopak dan atas izin Allah SWT penyakit sopak disekujur tubuhnya sembuh kecuali sebesar logam dirham.

Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? Hal itu untuk mengingatkan Uwais akan rahmat Allah SWT. Selain itu, tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua”.

Saat kedua sahabat utama Rasulullah SAW menemukan Uwais Al Qarni, mashurlah keistimewaannya. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.

—Selamat Hari Ibu–

Related Articles