Fardlu’ain Bagi Dakwah NU Masuk Dunia Digital 

Anak-anak muda yang lahir tahun 90-an ke atas, tumbuh sebagai generasi dimana teknologi sudah sedemikian rupa hadir di lingkungan mereka. Dengan keunggulan teknologi mereka bisa mengakses hampir apapun sumber informasi. Mereka bisa belajar berbagai pengetahuan secara mandiri lewat mesin pencari. Dunia menyebut anak-anak muda ini sebagai generasi digital atau digital natives.

Sementara jika menyimak lebih dalam, dunia digital terlebih sosial media sudah menjadi medan pertempuran teramat dahsyat. Arus propaganda informasi makin sulit disaring. Dari yang menyajikan tutorial-tutorial instan hingga yang memproduksi misi penyesatan moral, hoax, dan kebencian, gencar menyasar kognisi mereka. Jika tidak diantisipasi situasi ini sungguh menjadi ancaman luar biasa bagi masa depan generasi penerus kita. Tak terkecuali anak-anak muda penerus perjuangan Nahdlatul Ulama.

Menyinggung keresahan ini, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masduki Baidlowi menyatakan kewajiban NU merambah media sosial. Dalam wawancara dengan Pimpinan Umum seputarnu.com Didik Suyuthi, Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia ini bahkan menegaskan fardlu ‘ain hukumnya bagi dakwah NU untuk masuk ke dunia digital. Berikut petikan wawancara lengkapnya.

_______________________

Bagaimana sesungguhnya tantangan dakwah NU dalam percaturan dunia digital saat ini?

Begini, dunia ini terus mengalami keniscayaan adanya regenerasi. Pada generasi baby boomers pertama, mereka sekarang usianya sudah diatas 70 tahun, dan generasi baby boomers kedua, mereka antara 51 – 70 tahun, pada masa generasi ini dunia dakwah kita masih k onvensional. Pengajaran nilai masih terpusat di madrasah, di pesantren, di surau-surau. Tetapi yang kita hadapi sekarang adalah generasi digital. Orang menyebutnya sebagai digital natives generation. Dimana segala kebutuhan informasi mereka ada di genggaman.

Menghadapi generasi digital ini tidak bisa lagi menggunakan cara lama. Konsep dakwah dengan cara-cara konvensional tidak banyak berguna. Sekarang cara baru dibutuhkan. Sebuah cara yang lebih bisa diterima, yang acceptable di kalangan anak-anak millennial. Media mainstream sudah bukan lagi pegangan utama. Konstelasinya sudah berubah. Media digital sekarang sudah menguasai 65 persen lebih sebagai pusat arus informasi. Kalau NU tidak mengantisipasi, NU akan ditinggalkan oleh anak-anak muda.

Jadi artinya NU harus membenahi basis kulturalnya?     

NU itu kelompok masyarakat tradisional. Budayanya patrimonial. Lebih mendahulukan pertemanan, persahabatan dan sikap guyup dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. NU bukan kelas masyarakat industri. Masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sudah akrab dengan teknologi modern. Untuk menyentuh kelas masyarakat industry ini saja NU sudah terkendala. Terlebih perkembangan eranya saat ini  sudah masuk ke era masyarakat pasca indsutri. Makin jauh lagi jangkauannya. Wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad (Perhatikanlah sejarahmu untuk masa depanmu). Kan itu poinnya.

Anak-anak muda digital natives generation ini kecenderungan perilaku sosmednya hit and run. Interaksi satu sama lain bisa dengan cepat terbangun bisa cepat pula berakhir di ujung jari. Sementara prinsip dakwah kan harus kontinyu dan terencana. Catatan anda bagaimana?

Ya bagi mereka nyawa itu kan adanya di pulsa dan kuota. Kalau kuota habis rasanya seperti mati suri. Seperti nggak bisa ngapa-ngapain. Kerjaan generasi digital ini kan browsing apa saja yang kadang banyakan tidak jelasnya. Kalau mereka tidak dibekali dengan tool yang bisa mengarahkan atau membimbing, bisa diombang-ambingkan informasi mereka itu. Akibatnya pemahaman agamanya loncat-loncat. Kalau sudah begitu mereka itu ibarat kawanan binatang gak ada pengembalanya.

Segala sesuatu harus ada pembimbingnya. Tugas dakwah NU kemudian untuk hadir di ruang-ruang itu. Kalau sadar bahwa generasi browsing ini juga merupakan generasi yang sama yang akan meneruskan perjuangan NU, maka fardlu ‘ain hukumnya bagi dakwah NU masuk dunia digital.

Dakwah NU fardlu ‘ain misalnya memproduksi video-video pendek 1 menitan. Membuat meme dengan konten-konten pencerahan yang menyejukkan. Dakwah NU ke depan bagaimana mengemas dan menyampaikan nilai-nilai aswaja melalui metode dakwah kreatif itu. Contoh, al yadul ulya khairun minal yadis suflaa. Ini konten bagus. Bagaimana caranya konten ini dinarasi visualkan sehingga acceptable di kalangan generasi digital.

Lalu bagaimana NU menghadapi cyber war?  

Perang saat ini perang media sosial. Dalam kaitan ini the content is a king. Otaknya ada disitu. Kalau soal content, NU punya itu segudang. NU hanya butuh orang kreatif. Tentu harus ada pasukan cyber yang kuat. Harus ada tim konten. Kalau generasi baby boomers dulu dikenalkan kata-kata bijak undzur maa qoola wa laa tandzur man qoola, di generassi saat ini itu tidak berlaku lagi. Di era cyber war harus selektif dalam menyerap informasi apapun. Kebenaran kontennya akurat tidak? Adakah Motif

Dalam dunia cyber war, simbol apapun bisa dipakai untuk menyerang lawan. Bahkan konten baik pun bisa diplintir untuk mengambil manfaat atau melemahkan. Contoh, baru-baru ini ada sebuah organisasi mahasiswa di Malang memajang foto hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari lengkap dengan quote-nya. Foto tersebut diviralkan katakanlah sebagai ambassador dalam rangka rekrutmen anggota baru. Foto dan quote mungkin saja benar. Tetapi konteks dan tujuan jelas ahistoris. Ini karena tidak ada kaitan historis-ideologis atau bahkan nasab keilmuan antara hadratussyaikh dengan organisasi bersangkutan.

Terakhir, apa pesan pantangan buat generasi millenial NU?           

Kader millennial NU harus clear dan tidak boleh gagal faham tentang paham khilafah. Kader muda NU tidak boleh terjerembab ke dalam cara berfikir mengenai Islam yang tidak kompatibel.

Satu hal saya ingin katakan, budaya masyarakat kita ini masih patrimonial. Hubungan patron-kliennya kuat. Kayak hubungan santri dengan kiai dan seterusnya. Kepemimpinan kharismatik kiai kan masih mempengaruhi cara pandang santri dalam banyak hal. Nilai-nilai seperti ini tidak boleh tergerus oleh nilai-nilai apapun. Modernitas apapun tidak boleh menggerusnya. Sehebat apapun sebuah pesantren kan tetap diajarkan ta’lim muta’allim. Diajarkan adab dan akhlaq. Karena disitu ruhnya kita belajar ilmu. Jadi modern itu harus. Tetapi menjaga keseimbangan juga harus.

Contoh paling ideal ya Gus Dur. Bagaimana rasionalitas dia bangun. Tetapi disisi lain dia adalah orang yang tidak pernah meninggalkan prinsip-prinsip tradisionalnya seperti selalu berpihak yang lemah, anti-diskriminasi, dan tak pernah membenci orang. (*)

Related Articles