Pandangan Ulama tentang Musik

JAKARTA- Akhir-akhir ini kembali ramai di dunia maya pembahasan musik dengan berbagai turunannya dipandang dari agama. Bagaimana pandangan ulama tentang musik, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj tentang keberadaan musik? Menurut Kiai Said yang juga pakar tasawuf mengutip tokoh sufi besar Imam Dzunun Al Misri musik adalah suara kebenaran.

“Imam Dzunun Al Misri seorang ulama sufi besar yang wafat 245 H menuturkan musik itu adalah shoutu haqqin yus ijul quluba ilal haq. Musik adalah suara yang haq, musik tidak pernah bohong, yang bohong itu mulut. Dan bisa mendorong hati kita mendapatkan kebenaran, puncaknya kebenaran adalah Allah SWT,” tutur Prof.KH. Said Aqil Siroj di Gedung PBNU beberapa waktu lalu.

Kiai Said menambahkan kata Imam Dzunun Al Misri barang siapa mendengarkan musik dibarengi sahwat maka musik menyampaikan pada perilaku menyimpang/ Zindiq, tapi barang siapa mendengarkan musik dengan sungguh-sungguh akan mencapai hakikat. Contoh praktis, lanjutnya begini mau dzikir, sholat sunnah mendengarkan musik dulu, dalam rangka membersihkan diri kita dari penyakit hati, cara buangnya dengan musik. Sudah hilang misal dari luar jengkel, marah, masuk rumah langsung tahajud, sholat hajad tidak bisa itu, tidak tune in.

“Oleh karena itu musik bersifat universal tidak mengenal batas bangsa dan agama. Manusia yang ingin mencapai pada hal kondisi spiritual yang universal juga diantarkan dengan musik,” jelas Kiai asal Cirebon ini.

Ia meminta pendapat tersebut tidak dipahami dengan hukum fiqih. Bicara musik itu, lanjutnya dari perspektif tasawuf.

“Kalau dari ilmu fiqih, namanya alat malahi, haram! Kenapa? Karena kebanyakan, mayoritas, anak-anak yang bermain musik, lupa shalat, lupa dzikir kepada Allah. Alatul malahi, alat yang melupakan. Tapi sekali lagi, Al-Qur’an sendiri mengatakan, kalau syairnya justru mendekati kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, insyaallah,” jelas Kiai yang juga guru besar bidang tasawuf di UIN Sunan Ampel ini.

Kiai Said menambahkan Imam Ghozali dalam ihya’ mengatakan banyak sekali orang bisa tergugah/ sadar setelah mendengarkan musik padahal orang itu sering mendengarkan Qur’an tapi tidak terenyuh sama sekali. Misal mendengar ayat yang menjelaskan siksaan neraka tidak berupa. Sebaliknya setelah mendengar musik yang bagus berubah menjadi halus hatinya.

“Akan tetapi tidak bisa musik hanya dijadikan dasar satu-satunya jalan menuju Allah SWT. Musik yang bermanfaat adalah yang didasari dengan iman, niat tulus, meningkatkan iman pada Allah. Musik sebagai sarana meningkatkan iman pada Allah SWT,” tegasnya.

Related Articles