Hukum Mencegah Haid dengan Obat Ketika Melaksanakan Haji

JAKARTA- Menurut medis Menstruasi adalah proses perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang dapat  terjadi secara berkala. Hal tersebut  dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Dalam Bobak (2004) mestruasi atau haid didefinisikan sebagai keadaan normal yang rutin terjadi pada perempuan ditiap bulannya. Dalam Fathul Qarib, Haid secara  bahasa mempunyai  arti mengalir. Adapun menurut istilah syara’ :

فَالْحَيْضُ هُوَ) اَلدَّمُ (الْخَارِجُ) فِيْ سِنِّ الْحَيْضِ، وَهُوَ تِسْعُ سِنِيْنَ فَأَكْثَرُ (مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَلَى سَبِيْلِ الصِّحَّةِ)، أَيْ لَا لِعِلَّةٍ، بَلْ لِلْجِبِلَّةِ (مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الْوِلَادَةِ).

“Haid adalah darah yang keluar ketika sudah masanya haid, yakni sembilan tahun atau lebih dari kemaluan seorang wanita dalam kondisi sehat], yang bukan karena darah penyakit melainkan karena kodrati di mana tidak disebabkan karena melahirkan”.

Hasil penelitian Imam Syafi’i dalam kitab Al Minhaju al-Qawim: 29 menjelaskan waktu haid seorang perempuan. Bahwa perempuan ketika mengeluarkan darah haid sekurang-kurangnya masa sehari semalam atau 24 jam, baik selama 24 jam itu darah keluar terus menerus, atau terputus-putus selama 15 hari dan malam.  Pada umumnya perempuan mengeluarkan darah haid  selama 6 atau 7 hari.  Sedangkan lamanya seorang perempuan mengeluarkan darah haid adalah 15 hari dan 15 malam. Dalam kitab Fathul Qarib :

وَأَقَلُّ الْحَيْضِ) زَمَنًا (يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ) أَيْ مِقْدَارُ ذَلِكَ وهو أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ سَاعَةً على الْإِتِّصَالِ الْمُعْتَادِ في الحَيْضِ (وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرُ يَوْمُا) بِلَيَالِهَا, فَإِنْ زَادَ عليها فهو إِسْتِحَاضَةٌ, (وَغاَلٍبُهُ سِتٌ أَوْ سَبْعُ) وَالْمُعْتَمَدُ في ذلك الإِسْتِقْرَاءُ.

Saat musim haji seperti  ini, biasanya perempuan yang melakukan ibadah haji umumnya meminum obat untuk menunda waktu haid.  Mengingat  lamanya waktu haid, dan Ibadah Haji di batasi oleh waktu,  dengan begitu perempuan dapat menahan waktu haid dan dapat melaksanakan ibadah secara maksimal. Dalam pandangan Islam hal tersebut diperbolehkan asalkan tidak  menimbulkan bahaya pada dirinya sendiri. Dalam kitab Ghayatut Talkhis di jelaskan :

وَفِيْ فَتَاوَى الْقَمَّاطِ مَا حَاصِلُهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ

“Dalam Fatawa Al Qammaath (Syeikh Muhammd ibn al Husein al Qammaath) di simpulkan diperbolehkannya menggunakan obat untuk mencegah datangnya haid.” (Ghayatut Talkhis: 196).

وَيَجُوزُ شُرْبُ دَوَاءٍ مُبَاحٍ لِقَطْعِ الْحَيْضِ مَعَ أَمْنِ الضَّرَرِ نَصًّا ) كَالْعَزْلِ وَ ( قَالَ الْقَاضِي لَا يُبَاحُ إلَّا بِإِذْنِ الزَّوْجِ ) أَيْ : لِأَنَّ لَهُ حَقًّا فِي الْوَلَدِ ( وَفِعْلُ الرَّجُلِ ذَلِكَ بِهَا ) أَيْ : إسْقَاؤُهُ إيَّاهَا دَوَاءً مُبَاحًا يَقْطَعُ الْحَيْضَ ( مِنْ غَيْرِ عِلْمِهَا يَتَوَجَّهُ تَحْرِيمُهُ ) قَالَهُ فِي الْفُرُوعِ ، وَقُطِعَ بِهِ فِي الْمُنْتَهَى لِإِسْقَاطِ حَقِّهَا مِنْ النَّسْلِ الْمَقْصُودِ . ( ومثله ) أي مثل شربها دواء مباحا لقطع الحيض ( شربه كافورا ) قال في المنتهى ولرجل شرب دواء مباح يمنع الجماع

Artinya : Diperbolehkan meminum obat yang diperbolehkan syara’ untuk memutus datangnya haid bila aman dari bahaya atas dasar nash. Hal ini disamakan sebagaimana  masalah ‘azl. Qadhi Ibnu Muflih berkata: tidak diperbolehkan kecuali dengan seizin suami sebab suami memiliki hak atas mendapatkan keturunan. Serta perbuatan suami akan hal itu, yakni meminumkan obat yang diperbolehkan syara’ pada istri untuk memutus haid tanpa sepengetahuan istrinya pantas dinilai haram diungkapkan dalam kitab Furu’, ditegaskan pula dalam kitab al-Muntaha sebab perbuatan itu melanggar hak istrinya untuk mendapatkan keturunan yang dikehendakinya.

Related Articles