MUI Berfatwa Penggunaan Vaksin MR Mubah, Boleh Digunakan Karena Mendesak

JAKARTA– Vaksin Measles Rubella (MR) sejak beberapa tahun lalu mengundang polemik ditengah masyarakat. Hal itu karena menyeruak isu vaksin MR mengandung babi dan bagaimana hukumnya? Bahkan beberapa orang anti vaksin terus menyebarkan agar tidak perlu vaksin MR.

Sementara pemerintah menggelar vaksin MR serentak karena ganasnya virus MR yang ditemukan di lokasi tertentu. Bahkan menyebabkan meninggal.

Akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa mengeluarkan fatwa hukum vaksin MR adalah mubah, boleh digunakan karena beberapa alasan.

“Pertama, terdapat kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iiyah), kedua belum ditemukannya vaksin MR yang bahannya halal dan suci. Ketiga, ada keterangan ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin halal,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH. Asrorun Ni’am Sholeh di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Senin (20/8) lalu.

Ni’am mengatakan pihaknya meminta pemerintah khususnya dalam hal ini kementerian kesehatan harus lebih lagi menjamin tersedianya vaksin halal guna kepentingan masyarakat Indonesia. Selain pertimbangan kesehatan, lanjutnya pemerintah juga perlu memerhatikan aspek keagamaan karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga masyarakat merasa aman.

“Pemerintah harus menjadikan pertimbangan kegamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan, ” imbuh Niam yang juga Katib Syuriyah PBNU ini.

Ni’am juga meminta pemerintah terus mendorong pihak-pihak terkait seperti WHO maupun negara-negara berpenduduk muslim memerhatikan kebutuhan umat Islam terhadap obat-obatan yang halal dan suci. Ia meminta Produsen mendapatkan sertifikat halal sesuai dengan UU Jaminan Halal.

“Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.” pungkasnya.

Related Articles